Ibu Kenang Senyum Terakhir Balita Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan

Ibu Kenang Senyum Terakhir Balita Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 04 Jun 2026 11:45 WIB
Anastacia Niken, ibu balita yang meninggal diduga korban malpraktik di RSUD Prambanan. Foto diambil saat Niken melapor ke Polda DIY, Selasa (2/6/2026).
Anastacia Niken, ibu balita yang meninggal diduga korban malpraktik di RSUD Prambanan. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Jogja -

Anastacia Niken Purwandari (36) tak kuasa menahan kesedihannya kala mengenang putrinya Naura (3) yang meninggal usai menjalani CT Scan di RSUD Prambanan, Sleman. Niken mengenang senyum ceria putrinya itu sebelum mendapat tindakan di RSUD Prambanan.

"Dia ceria, dia tuh di situ yang masih apa mainan, kan dia ada di depan klinik poli itu ada ruang bermain anak. Dia masih di situ, masih mainan, masih lihat-lihat buku," kata Niken saat ditemui di Mapolda DIY, Sleman, Selasa (2/6/2026).

Tak hanya itu, Niken mengingat anaknya juga masih ceria saat berada di ruang radiologi. Naura pun masih beraktivitas seperti biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di ruang radiologi pun dia juga masih makan-makanan, dikasih makanan orang itu juga dia masih dimakan, masih lihat HP, lihat TV, itu dia masih masih aktivitas seperti biasa," ujarnya.

Niken menyebut putrinya sempat mendapat tiga kali suntikan melalui selang infus sebelum menjalani CT Scan. Dia pun baru keluar ruangan setelah anaknya tertidur.

"Dia diperiksa suntikan lewat alat infus itu. Di situ tiga kali. Di situ saya mendampingi anak saya. Setelah anak saya tidur, saya baru keluar. Setelah saya keluar itu saya nggak tahu di dalam dokter melakukan apa," ujarnya.

Niken menuturkan, saat suntikan kedua, anaknya sudah menunjukkan tanda-tanda kurang nyaman dan meminta pulang. Ia pun menggendong sang anak agar tidak rewel.

"Mungkin merasa nggak enak, dia minta udah mulai nangis, dia udah mulai minta pulang, pengin ketemu kakaknya, itu udah-udah itu. Terus tak gendong itu dia masih tetap nangis, sampai di suntikan ketiga pun dia masih tetap nangis. Sampai dia tertidur, tertidur pun di pelukan saya," ujarnya.

Selang beberapa waktu, dokter menyampaikan anaknya muntah dan tak sadarkan diri. Naura pun disebut tidak sadar.

"Setelah keluar, dokter udah mengatakan anak saya seperti itu kondisinya, yang dia udah muntah, dia udah henti napas. Dia yang udah dipasang alat bantu pernapasan, dia yang udah nggak sadar," katanya.

Niken menyebut putrinya mendapat penanganan di RSUD Prambanan usai mendapat rujukan pemeriksaan tumbuh kembang anak. Disebutkan, bocah tiga tahun itu lingkar kepalanya di angka 46 cm sehingga membutuhkan perhatian khusus.

"Padahal dia nggak sakit, dia nggak ada keluhan apapun. Terus waktu dipasang alat untuk dimasukin obat pun dia masih ceria, dia masih bercanda sama saya. Jadi sama sekali dia tuh nggak sakit, sama sekali," ujarnya.

Dia pun berharap mendapatkan penjelasan dari RSUD Prambanan terkait kematian anaknya. Oleh karena itu, ia ingin tahu penjelasan dari rumah sakit terkait penyebab kematian anaknya.


"Terus pemeriksaan CT scan sampai dia enggak sadar, sampai dia meninggal itu yang mau saya pertanyakan ke pihak rumah sakit. Saya pengin tahu rumah sakit tuh ngomongnya kayak apa, soalnya waktu anak saya nggak ada pun pihak rumah sakit juga belum ada konfirmasi apapun saya," ujarnya.

Niken pun melaporkan kasus kematian putrinya ke Polda DIY. Dia datang didampingi kuasa hukumnya.

"Ini melanjutkan dari pemeriksaan awal terkait dengan laporan polisi tersebut terkait dengan dugaan kelalaian medis sesuai diatur dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen," kata salah satu tim kuasa hukum korban, Purnomo Susanto ditemui wartawan di Polda DIY, Selasa (2/6).

Laporan dugaan malpraktik ini dilayangkan pada tanggal 17 Mei 2026 dengan nomor laporan LP/B/319/V/2026/SPKT/Polda DIY. Pihak Niken pun menyerahkan pengusutan kasus ini ke polisi.

"Apakah kemudian dugaan malpraktik atau ada kelalaian atau tidak, itu nanti biar kami sepenuhnya menyerahkan kepada kepolisian," lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prambanan drg. Ratih Susila, M.P.H., saat dimintai konfirmasi menyebut pihaknya merencanakan memberikan keterangan medis untuk keluarga.

"Jadi, saat ini RSUD Prambanan itu sedang merencanakan untuk jadwal kami memberikan keterangan medis kepada pihak keluarga dan kuasa hukumnya. Dan ini kami sedang menunggu jadwal dari kuasa hukum pihak keluarga," ujar Ratih.


Ratih menjelaskan, sesuai prosedur, saat ini rumah sakit sedang melakukan audit medis terkait kasus ini. Namun, untuk hasilnya, Ratih masih belum bisa menyampaikan.

Ia menjanjikan akan memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian dan penyebab meninggalnya korban.




(ams/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads