Komikus yang tinggal di Jetis, Bantul sukses membawa komik Indonesia menjelajah pasar Eropa. Komikus tersebut ialah Apri Kusbiantoro (50) yang bakal melaunching komik berjudul Elang Jawa di Eropa.
Komik itu lahir dari meja kerja di Jetis Bantul. detikJogja sempat menyaksikan Apri dengan lihai menggoreskan kuas sekaligus pena di atas kertas putih.
Goresan-goresannya itu perlahan membentuk karakter yang akan tersaji dalam bentuk komik. Apri sebenarnya berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkenalannya dengan komik dimulai saat dirinya kerap melihat kakaknya menyewa atau membeli komik khususnya komik Eropa dan Amerika. Kecintaannya pada pun tumbuh sejak kecil hingga dirinya kerap meniru karakter-karakter komik tersebut dalam bentuk gambar.
"Komik Amerika itu seperti Batman, Superman, Marvel seperti Hulk, Captain America hingga Avengers. Untuk komik Eropa saya baca Storm, Trigun hingga Tintin," katanya kepada wartawan di kediamannya, Trimulyo, Jetis, Bantul, Jumat (5/6/2026).
Buku tulis untuk sekolah pun kerap penuh dengan karakter-karakter komik. Saking cintanya, ia terus saja menggambar meski kerap disebut tak ada gunanya.
"Suka gambar sejak kecil, buku tulis saya lebih banyak gambar ketimbang catatannya. Lalu dianggap sama orang tua semua itu karena kebanyakan membaca komik," ujarnya.
"Karena di era saya, khususnya orang tua di lingkungan saya menganggap komik itu bukan bacaan baik, sebaiknya dihindari dan lebih baik membaca buku pelajaran. Ya mungkin karena orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya secara akademis, padahal saya saat SD masih rangking 5 besar," ucapnya.
Apri Kusbiantoro (50) saat menunjukkan komik Elang Jawa yang akan launching di Eropa. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Mulai Coba Bikin Komik sejak SMP
Alhasil saat duduk di bangku SMP, Apri mulai membuat komiknya sendiri namun tidak selesai. Hal serupa juga Apri lakukan saat duduk di bangku SMA.
"Terus tahun 1994 masuk ISI Jogja jurusan desain komunikasi visual (DKV) dam buat komik berjudul Bunglon. Komik itu sempat dicetak oleh Balai Pustaka," ujarnya.
Akan tetapi, saat itu era komik Indonesia kalah dengan komik dari Jepang. Hal tersebut membuat Apri banting setir menjadi animator pada tahun 1999 untuk salah satu rumah produksi di Jakarta.
Jadi Ilustrator Penulis Amerika hingga Eropa
Merasa hanya menjadi orang di balik layar, Apri mencoba peruntungan dengan mengirimkan karyanya ke Amerika melalui digital webbing pada tahun 2007. Saat itu Apri mencari penulis yang membutuhkan ilustrator.
"Setelah ketemu saya email dan kirim gambar-gambar, ternyata cocok dan ditawari naskah agar direalisasikan sebagai komik. Semua itu baru dapat di tahun 2011, jadi cukup lama," ucapnya.
Apri pun mengerjakan dengan tujuan hanya untuk bersenang-senang. Mengingat saat itu Apri sudah bisa hidup dari pekerjaan sebagai animator dan belum bisa berpaling dari dunia animasi yang sudah menghidupinya selama ini.
"Lalu penerbit mayor melirik dan membuat komik Radio Gaga. Ternyata Amerika deadline sangat ketat, karena masih animator saya fokus ke animasi saja," katanya.
Namun hasrat Apri untuk menjadi komikus tetap besar hingga akhirnya mencoba mengirimkan karyanya ke Eropa. Apri mengungkapkan alasannya memilih pasar komik Eropa karena dahulu suka membaca komik Storm karya Don Lawrence.
"Ternyata ada orang Belanda menghubungi saya dan bilang kok gaya gambarmu mirip dengan Don Lawrence. Dari situ orang Belandanya ingin memasukkan karya saya ke majalah, saat itu saya percaya saja dan langsung mengirim gambar dengan catatan carikan penulisnya," ujarnya.
Apri Kusbiantoro (50) saat mengerjakan komik di kediamannya, Trimulyo, Jetis, Bantul, Jumat (5/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Kisahnya di Belanda juga menjadi awal kisah Apri mendapatkan tawaran untuk menjadi ilustrator komik Storm. Mendapat tawaran tersebut, Apri langsung mengiyakannya.
"Kan seperti mimpi yang jadi kenyataan," katanya.
Bikin Komik Indonesia untuk Pasar Eropa
Seiring berjalannya waktu, Apri pun sempat vakum dari dunia komik akibat pandemi COVID-19. Hingga akhirnya tahun 2021 sutradara film Fajar Nugros menghubungi Apri usai melihat karya poster film besutan Hanung Bramantyo.
"Lalu Fajar ingin buat komik, dia punya naskah dan mengajak saya mengerjakan komik itu," ujarnya.
Namun, saat itu Apri mengaku sedang memiliki dua proyek untuk industri komik Eropa. Akan tetapi Fajar menyebut jika tidak memberikan deadline untuk pengerjaan komiknya.
"Lalu saya tanya, komik mau diterbitkan atau gimana dan dijawab tidak tahu. Dari situ saya pernah tidak ada motivasi mengerjakan komik Elang Jawa, apalagi komik Indonesia," ucapnya.
Dari situ, Apri menantang dirinya sendiri dan menawarkan komik Elang Jawa ke Eropa. Bukan tanpa alasan, semua itu agar Apri memiliki motivasi.
"Lalu saya tawarkan ke penerbit Storm, akhirnya mau menerbitkan Elang Jawa di majalah dulu. Saat itu di-deadline dan Fajar senang, akhirnya Elang Jawa diterbitkan tahun 2025," katanya.
Apri mengaku besok, Sabtu (6/6) berangkat ke Jakarta. Selanjutnya dari Jakarta akan bertolak ke Eropa untuk tur komik Elang Jawa dan komik Storm De Maoutusauri Armada dalam versi Jerman dan Belanda.
"Besok tur Jerman, Belanda dan Belgia. Berangkat besok pagi ke Jakarta dulu, istirahat lalu ke Eropa. Jadi di Eropa saya launching komik Indonesia saya yang pertama dan diterima pembaca Eropa berjudul Elang Jawa," ujarnya.
Pria murah senyum ini mengaku sangat senang komik Indonesia 60 halaman karyanya bersama Fajar Nugros bisa diterima di Eropa. Sedangkan di Indonesia, komik Elang Jawa bisa dibeli di Gramedia hingga market place dengan harga Rp 72 ribu.
"Sangat senang, karena komik Indonesia bisa sampai Eropa, semoga ke depannya semakin banyak lagi komik-komik Indonesia yang sampai Eropa," ucapnya.
(afn/apu)


Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja