"Mengalir, mengikuti, memanggil kembali ke musik. Di mana pun akan selalu dipanggil kembali ke musik,".
Kalimat itu meluncur dari mulut Rulyanto Indrajati (42) saat merangkum perjalanan hidupnya. Dari kampung kecil di Siten, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, hingga tampil di panggung salah satu ajang musik terbesar di Polandia, musik seolah selalu menemukan cara untuk membawanya melangkah lebih jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan itu bermula dari rumah kakeknya. Rulyanto lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya tidak memiliki latar belakang musik. Namun darah seni mengalir dari sang kakek yang merupakan guru karawitan di SMP Kanisius dan Gereja Ganjuran, Bantul.
"Kalau kecil saya itu sudah dekat dengan musik karena simbah saya dulu guru gamelan. Simbah juga mengajari saya sedikit gamelan," kata Rulyanto saat dihubungi detikJogja, Kamis (11/6/2026).
Meski demikian, kecintaannya terhadap musik tidak tumbuh melalui gamelan semata. Saat bersekolah di SMP Negeri 1 Pandak dan kemudian SMA Negeri 1 Bantul, dia akhirnya memutuskan untuk membentuk band.
Musik-musiknya banyak dipengaruhi oleh Jamrud, Boomerang, Guns N' Roses, Metallica, hingga Sepultura. Maklum tahun 2000-an music rock lagi digandrungi.
"Teman-teman mulai main band. Saya akhirnya ikut senang main musik band. Mulainya waktu SMA sekitar tahun 2000," ujarnya.
Bersama teman-temannya, dia membentuk grup musik dan mulai tampil dari satu panggung ke panggung lain. Pentas pertamanya berlangsung dalam perayaan 17 Agustus di kawasan Goa Selarong.
"(Namanya) Selarong Band, dulu, karena kita belum punya nama. Cuma diundang orang-orang Selarong itu (terus nyebutnya) Selarong Band saja, gitu," ujarnya sambil terkekeh.
Kecintaannya terhadap musik terus berkembang. Akhirnya, dia mulai serius menggeluti dunia musik. Lalu dia mulai menulis lagu sendiri dan merekam karya-karyanya secara mandiri.
Pada 2009, dia merilis mini album pertama yang berisi enam lagu. Empat tahun kemudian, mini album kedua lahir bersama Radar Band.
"Tahun 2009 saya bikin mini album pertama, enam lagu. Lalu tahun 2013 mini album kedua, juga enam lagu," tuturnya.
Namun perjalanan Radar Band tidak selalu mulus. Pergantian personel kerap terjadi hingga akhirnya band tersebut benar-benar bubar.
"Radar Band, akhirnya bubar juga. Akhirnya bubar setelah saya ke Polandia," kenang pria yang memiliki nama panggung Rulyego itu.
Titik Awal Karier Musik di Sebuah Bar Kota Poznan
Perpindahan itu terjadi di tengah pandemi COVID-19. Pada 2021 ketika dia memutuskan pindah ke Polandia mengikuti istrinya yang berasal dari negara tersebut. Sebelumnya, sang istri telah tinggal selama enam tahun di Indonesia dan mereka telah dikaruniai dua anak.
Saat pertama tiba di Polandia, dia nyaris kehilangan panggung musik karena pandemi. Aktivitas hiburan dibatasi dan dia tidak memiliki teman bermusik. Namun kerinduan terhadap musik perlahan muncul kembali.
"Awal-awal COVID sepi. Setelah mulai dibuka, saya lihat ada musik lagi di bar-bar. Saya jadi pengin main musik lagi, tapi waktu itu belum punya teman," ujarnya.
Kesempatan datang saat dia bertemu pengelola sebuah bar di Kota Poznan. Dari pertemuan itu, dia ditawari tampil mengisi acara. Masalahnya, saat itu dia bahkan belum memiliki gitar.
"Saya sampai pinjam gitar dulu untuk pentas," katanya.
Pada penampilan pertama, dia membawakan lagu-lagu ciptaannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Penonton terlihat tertarik, tetapi dia menyadari ada tantangan yang harus dipecahkan.
"Mereka tertarik dengan bahasa Indonesia karena belum pernah dengar. Tapi kalau terlalu banyak lagu bahasa Indonesia, lama-lama kelihatannya bosan juga," ujarnya.
Dari situ muncul ide yang kemudian mengubah perjalanan bermusiknya di Polandia. Dia mulai menerjemahkan lagu-lagu ciptaannya ke dalam bahasa Polandia.
"Lagu pertama yang saya ubah itu lagu ulang tahun. Ternyata antusias sekali. Dari situ saya mulai mengubah lagu-lagu bahasa Indonesia menjadi bahasa Polandia," katanya.
Kini sekitar 10 lagu ciptaannya telah memiliki versi bahasa Polandia. Menurut dia, langkah tersebut membuat pertunjukannya lebih mudah diterima penonton.
"Kalau konser sekarang enak. Saya campur bahasa Polandia, Indonesia, dan Inggris. Jadi selama dua jam pertunjukan lebih bervariasi dan mereka lebih tertarik," ujarnya.
Selama hampir tiga tahun tinggal di Poznan, dia berkeliling dari satu bar ke bar lain sambil belajar bahasa Polandia. Pengucapan bahasa yang rumit menjadi tantangan tersendiri.
"Bahasa Polandia itu susah pengucapannya. Saya banyak belajar dari istri dan anak-anak," katanya.
Ikut Must Be the Music
Setelah pindah ke Warsawa, peluang yang lebih besar datang. Dia menemukan informasi mengenai Must Be the Music, ajang pencarian bakat musik yang tayang di televisi nasional Polsat.
"Saya daftar online. Kirim video, foto, sama biografi. Setelah itu dipanggil untuk seleksi," ujarnya.
Dia harus melewati beberapa tahapan audisi sebelum akhirnya tampil di hadapan juri utama yang terdiri dari musisi-musisi ternama Polandia. Lagu yang dipilih untuk dibawakan berjudul Cztery Sezony atau Empat Musim.
Lagu tersebut bercerita tentang tradisi masyarakat Polandia mencari jamur di hutan saat musim gugur. Namun, Rulyanto menambahkan sentuhan khas Indonesia di dalamnya.
"Saya nyanyi soal cari jamur di hutan, terus di akhir lagu saya campur dengan, saya kan dari Indonesia. Di akhir, di akhir lagu saya menyanyi, 'Mau petik kelapa, buah kelapa'. Di Polandia kan tidak ada," katanya.
"Mau petik kelapa tapi tidak ada. Terus lirik selanjutnya, 'Semangka kamu cukup untukku'," lanjutnya.
Celotehan di akhir lagi itu kemudian ditanggapi oleh salah satu juri wanita di ajang itu yang membuat seisi studio tertawa.
"'Semangka kamu cukup untukku', dia (juri) mengomentari, 'Mungkin semangka saya tidak cukup'. Ha, itu bikin, bikin semuanya yang di studio itu tertawa," ucapnya.
Penampilan tersebut kemudian viral dan diperbincangkan di media sosial maupun sejumlah media Polandia. Meski demikian, langkahnya terhenti sebelum semifinal.
"Saya cuma dapat satu suara yes dari juri. Tapi di sini sistemnya voting penonton. Sayangnya suara saya belum cukup untuk lanjut," ujarnya.
Di luar pencapaian tersebut, pengalaman bermusik di Polandia memberinya banyak pelajaran mengenai perbedaan budaya musik. Menurut dia, musisi Indonesia memiliki keunggulan dalam hal kepekaan musikal.
"Kalau musisi kita itu feel-nya kuat. Kupingnya peka. Mungkin karena dulu terbiasa belajar nyari kunci lagu dari kaset secara autodidak," katanya.
Sebaliknya, dia melihat banyak musisi Polandia memiliki dasar teori musik yang sangat kuat.
"Kalau di sini teori musiknya kuat sekali. Mereka sekolah musik banyak. Mainnya bagus-bagus. Awal-awal bikin nggak pede juga main sama mereka," ujarnya sambil tertawa.
Meski kini tinggal ribuan kilometer dari Bantul, kerinduan terhadap kampung halaman tetap ada. Namun sejauh ini, dia masih menikmati perjalanan yang membawanya dari panggung-panggung kampung di Bantul hingga layar televisi nasional di Polandia.
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja