Cerita di Balik Kampung Mati di Prambanan Sleman Ditinggalkan Usai Gempa 2006

Cerita di Balik Kampung Mati di Prambanan Sleman Ditinggalkan Usai Gempa 2006

Achmad Husein Syauqi - detikJogja
Minggu, 28 Jun 2026 16:38 WIB
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006.
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJogja
Sleman -

Padukuhan Nglepen dan sebagian Dukuh Sengir di Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman kini menjadi kampung mati. Kampung itu ditinggalkan usai gempa bumi 2006 yang membuat tanahnya ambles.

"Kalau yang Nglepen sekarang sudah migrasi semua. Sudah pindah semua, yang Sengir sebagian tidak ditempati," jelas Lurah Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kurniawan Widiyanto kepada detikJogja, Minggu (28/6/2026) siang.

Diceritakan Kurniawan, gempa bumi tahun 2006 silam berdampak kerusakan di desanya. Dampak terparah di Dukuh Nglepen yang membuat semua penduduknya direlokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang Nglepen semua pindah. Ya betul (karena tanahnya ambles)," lanjut Kurniawan.

ADVERTISEMENT

Meski bangunan di dua dukuh tersebut banyak yang rusak, tak ada korban jiwa imbas gempa tersebut. Dia menyebut korban jiwa dari kampung yang berada di sekitarnya justru lebih banyak.

"Tapi di sekelilingnya malah banyak korban, termasuk tempat saya. Alhamdulillah yang Nglepen nggak ada, semua selamat," kata Kurniawan.

Oleh sebab itu, para warga di Dukuh Nglepen dan sebagian Sengir direlokasi ke dome atau Nglepen baru. Sebab, kampung Nglepen dan sebagian Sengir tak bisa dihuni.

"Ya dari Nglepen sama Sengir (dipindah ke rumah dome/ Teletubbies) itu karena dampak gempa 2006. Kira-kira ada 70-an bangunan (dome)," imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, gempa bumi dahsyat yang mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006 silam meninggalkan jejak kampung mati di Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman. Kawasan kampung mati itu berubah menjadi hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi.

Kampung yang ditinggalkan penduduknya itu ada di Padukuhan Nglepen dan Sengir. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari Kota Jogja ke arah timur.

Berada pada koordinat 7° 49' 5,5" LS dan 110° 30' 22,4" BT, pedukuhan tersebut merupakan permukiman di tengah bukit. Meski begitu, bagian atas dan di bawah padukuhan itu masih berpenghuni.

"Nggih dados alas, pun mboten dinggeni (ya sudah jadi hutan karena sudah tidak dihuni)," ungkap warga Dukuh Nglepen, Lasiyem (70), kepada detikJogja di rumahnya yang baru di Nglepen Baru atau kampung dome, Sabtu (27/6).

Lasiyem menceritakan saat gempa tahun 2006, dirinya sedang memasak dan anaknya mandi bersiap sekolah. Begitu guncangan terjadi, seisi rumah keluar lari menyelamatkan diri.

"Ya lari keluar semua. Alhamdulillah tidak ada yang luka, satu RT Nglepen juga tidak ada korban karena lari keluar rumah," kenangnya.

Dijelaskan Lasiyem, meskipun tidak ada yang terluka atau meninggal akibat gempa di pagi buta itu tetapi seluruh bangunan tembok rusak. Bahkan ada rumah yang roboh sebagian.

"Lemahe niku ambles, temboke pedot-pedot (tanahnya ambles dan tembok rumah putus). Setelah itu tinggal di tenda dan 2009 dipindah ke sini (rumah dome/ Teletubbies)," lanjut Lasiyem.

Lasiyem mengaku tinggal di rumah dome itu sejak 2009 lalu. Dia bersama keluarga dan 50 warga lainnya dari Nglepen pindah ke rumah dome itu.

"Sudah jadi hutan ditutup kayu dan pohon, tidak lagi di sana, tidak boleh dihuni lagi. Ya ke sana cuma kadang cari pakan," ucap Lasiyem.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads