Antusias Muda-mudi Ikut Mubeng Beteng Keraton Jogja: Healing Tipis-tipis

Antusias Muda-mudi Ikut Mubeng Beteng Keraton Jogja: Healing Tipis-tipis

Adji G Rinepta - detikJogja
Selasa, 16 Jun 2026 22:16 WIB
Suasana jelang prosesi mubeng beteng Jogja.
Suasana jelang prosesi mubeng beteng Jogja. Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja
Jogja -

Tradisi Mubeng Beteng Keraton Jogja yang digelar malam 1 Suro alias tahun baru Jawa selalu menyedot atensi masyarakat, termasuk muda-mudi. Alasan mereka mengikuti acara ini pun relevan dengan keadaan psikologi mereka.

Mubeng Beteng baru akan dimulai tengah malam nanti, namun pantauan detikJogja, masyarakat sudah mulai hadir Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sekitar pukul 19.00 WIB. Semakin malam, semakin ramai masyarakat yang datang.

Tradisi budaya ini tak hanya dihadiri orang-orang tua, namun juga generasi muda. Alasan mereka mengikuti mubeng beteng pun sangat dekat dengan realitas saat ini, yakni untuk sarana healing. Seperti yang disampaikan Amalia Nurul (34).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bukan mau yang gimana-gimana ya, lebih memang sesuai judulnya kan topo bisu kan untuk merenungi kejadian-kejadian apa yang sudah saya lakukan setahun ke belakang, merefleksi apa sih yang kurang, apa yang perlu diperbaiki, gitu-gitu aja sih," jelas Amel kepada wartawan, Selasa (16/6) malam.

"Kalangan anak muda, gen z ya, yang trennya kan healing dan sebagainya itu yang mungkin mengenal meditasi juga, nah dengan topo bisu mubeng beteng ini tuh termasuk salah satu meditasi juga sebenarnya, meditasi yang jalan kaki gitu, tapi dengan berdiam diri, merenungi gitu. Jadi tipis-tipis healing, mengeluarkan semua overthinking-nya gitu," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Hal senada juga disampaikan Sekar Jemparing (26). Ia menggunakan mubeng beteng ini sebagai sarana refleksi diri dari riuh dan kencangnya tempo hidup belakangan ini.

"Satu sisi saya memang butuh waktu untuk menenangkan dan merefleksikan diri ya, karena sebenarnya tradisi mubeng beteng ini kan untuk itu," terang Sekar.

"Merefleksikan, kita tenang, mengingat apa yang terjadi. Dan menurut saya generasi muda sekarang boleh untuk mencoba itu, untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk, dari deadline, dari apapun itu yang kencang, untuk menenangkan diri," sambungnya.

Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng digelar untuk menyambut Tahun Baru Jawa Be 1960. Agenda diawali dengan pembacaan macapat yang melantunkan kidung pengharapan untuk tahun baru yang lebih baik.

Pembacaan macapat sendiri akan dimulai pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebelum nantinya pada pukul 23.00 - 23.50 WIB akan dilakukan seremonial dan persiapan pemberangkatan peserta Lampah Budaya Mubeng Beteng di lokasi yang sama.

Sesuai namanya, agenda ini merupakan inisiasi dari kawula atau masyarakat, tepatnya oleh Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Jadi agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Yogyakarta ya, tapi inisiatif dari Abdi Dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan," terang

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Yogyakarta, KRT Kusumanegara dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Senin (15/6).

"Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan lampah budaya Mubeng Beteng ini, menyatukan rasa untuk menjalani refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik," sambung Kanjeng Kusumanegara.






(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads