Umat Islam yang hendak melaksanakan puasa Tasua dan puasa Asyura harus mengetahui bacaan niatnya. Niat ini dapat diamalkan sebelum mulai berpuasa.
Puasa Tasua adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari buku Fikih Kontroversi Jilid 2: Beribadah antara Sunnah dan Bid'ah karya H.M Anshary, puasa Asyura telah dikenal sejak zaman Nabi Musa AS sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah SWT kepada Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut.
Dalam hadits dari Ibnu Abbas RA meriwayatkan, "Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, 'Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun dan kaumnya.' Maka Nabi SAW bersabda, 'Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa." (HR Bukhari dan Muslim)
Puasa ini memiliki banyak keutamaan dan fadilah, salah satunya yakni menjadi puasa sunnah yang paling utama. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram). Sementara salat yang paling utama setelah sholat wajib adalah salat malam." (HR Muslim)
Niat Puasa Tasua dan Asyura
Merujuk buku Meraih Surga dengan Puasa karya H. Herdiansyah Achmad, berikut bacaan niat puasa sunnah Tasua dan Asyura di bulan Muharram.
Niat Puasa Tasua
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ تَاسُعَةَ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma yauma Tasuata sunnata-lillâhi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat puasa Tasua sunnah karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Asyura
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَأَ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma yauma 'asyûra-a sunnata-lillâhi ta'âla.
Artinya: "Aku berniat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta'ala."
Waktu Membaca Niat Puasa Tasua dan Asyura
Karena termasuk puasa sunnah, niat puasa Tasua dan Asyura dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincir matahari (zawal), selama seseorang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah RA: "Suatu hari Rasulullah SAW datang kepadaku lalu bertanya, 'Apakah kalian mempunyai makanan?' Kami menjawab, 'Tidak.' Maka beliau bersabda, 'Kalau begitu aku berpuasa'." (HR Muslim)
Dalil Anjuran Puasa Tasua
Puasa Tasua dianjurkan sebagai penyempurna puasa Asyura dan untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi.
Ibnu Abbas RA meriwayatkan: "Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa, para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan'." (HR Muslim)
Namun sebelum Muharram tahun berikutnya tiba, Rasulullah SAW telah wafat. Karena itu para ulama menganjurkan puasa tanggal 9 Muharram bersamaan dengan tanggal 10 Muharram.
Dalil Keutamaan Puasa Asyura
Keutamaan puasa Asyura disebutkan dalam hadits shahih riwayat Muslim. Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu." (HR Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat nasuha.
(dvs/kri)

Komentar Terbanyak
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Soal Pidana Pelaku dan Kampanye LGBT
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina