Malam Asyura 10 Muharram 1448 H akan tiba petang ini mengacu pada sejumlah kalender Hijriah. Umat Islam bisa menghidupkan malam ini dengan berdoa.
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin memasukkan malam Asyura 10 Muharram dalam malam-malam khusus yang memiliki keutamaan. Menurut Imam al-Ghazali, beribadah pada malam hari-hari yang punya keutamaan hukumnya adalah sunnah.
"Banyaknya malam yang memiliki keutamaan tersebut ada 15. Tidak boleh kita mengabaikan malam-malam itu karena mereka adalah 'masa' untuk beramal dan waktu terbaik untuk berniaga dalam perkara agama. Barang siapa lalai dan lengah pada masa tersebut, dia tidak akan menuai laba," kata Imam al-Ghazali seperti diterjemahkan Purwanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam Asyura juga termasuk waktu mustajab berdoa. Meski tidak ada dalil khusus tentang doa yang dipanjatkan pada malam ini, umat Islam bisa berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa-doa yang diajarkan para orang saleh.
Doa Asyura 10 Muharram: Arab, Latin, dan Artinya
اللَّهُمَّ يَا مُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَيَا مُخْرِجَ ذِي النُّوْنِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا جَامِعَ شَمْلِ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا غَافِرَ الذَّنْبِ دَاوُودَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا كَاشِفَ ضُرِ أَيُّوبَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا سَامِعَ دَعْوَةِ مُوسَى وَهَارُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا خَالِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ. يَا رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَطِلْ عُمْرِي فِي طَاعَتِكَ وَ مَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَأَحْيِنِي حَيَاةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِي عَلَى الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
Arab latin: Allaahumma yaa mufarrija kulli karbin, wayaa mukhrija dzin nuuni yauma 'aasyuuraa'a, wa yaa jaami'a syamli ya'quuba yauma 'aasyuuraa'a, wayaa ghaafıra dzambi daawuuda yauma 'aasyuuraa'a, wa yaa kaasyifaa dhurri ayyuuba yauma 'aasyuuraa'a, wa yaa saami'a da'wati muusaa wa haaruuna yauma 'aasyuuraa`a, wa yaa khaaliqa ruuhi muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallama yauma 'aasyuuraa'a. Yaa rahmaanad dunyaa wal aakhirah, wa athil 'umrii fii thaa'atika wa mahabbatika wa ridhaaka yaa arhamar raahimiin, wa ahyinii hayaatan thayyibataw wa tawaffanii 'alal islaami wal iimaani yaa arhamar raahimiin. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadiw wa 'alaa aalihii washahbihii wasallam, walhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin.
Artinya: "Wahai Allah, wahai Yang memberikan jalan keluar dari segala kesusahan, wahai Yang mengeluarkan Dzun Nuun pada hari Asyura, wahai Yang meng-himpun semua keturunan Ya'qub pada hari Asyura, wahai Yang mengampuni dosa Dawud pada hari Asyura, wahai Yang melenyapkan penyakit Ayyub pada hari Asyura, wahai Yang mendengar seruan Musa dan Harun pada hari Asyura, wahai Yang menciptakan Ruh Muhammad pada hari Asyura. Wahai Yang Maha Pemurah di dunia dan akhirat, panjangkanlah usiaku dalam ketaatan kepada-Mu, mencintai-Mu dan mendapat ridha-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Hidupkan juga diriku dalam kehidupan yang baik dan matikanlah aku dalam keadaan Islam dan iman. wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta para sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta."
Doa malam Asyura 10 Muharram tersebut terdapat dalam Majmu' Syarif susunan Tim Turos Pustaka.
Mengapa Hari Asyura Istimewa?
Hari Asyura adalah satu waktu yang istimewa pada bulan Muharram. Rasulullah SAW berpuasa pada hari ini dan menganjurkan umatnya melakukannya.
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: "Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu." (Muttafaq 'Alaih)
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Puasa bab Puasa Asyura, terdapat dalam Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi.
Puasa Asyura bisa menghapus dosa setahun yang lalu sebagaimana dikatakan dalam hadits shahih berikut:
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya: "Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, 'Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu'." (HR Muslim)
Menurut riwayat shahih, hari Asyura adalah hari saat Nabi Musa AS dan kaumnya diselamatkan Allah SWT dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya. Nabi Musa AS kemudian berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat umat Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau pun bertanya tentang puasa itu dan setelah itu Nabi SAW juga berpuasa.
Imam Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa terjemahan Dudi Rosyadi memaparkan riwayat Imam Ahmad tentang hal ini. Di dalamnya juga menyebut kapal Nabi Nuh AS juga berlabuh pada hari Asyura.
Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Ja'far, dari Abdus-Samad bin Habib Al-Azdiy, dari ayahnya, Habib bin Abdullah, dari Syubail, dari Abu Hurairah, ia berkata, Suatu hari Nabi bertemu dengan sekelompok orang Yahudi yang sedang berpuasa hari Asyura, lalu Nabi bertanya, "Bertepatan dengan apakah hingga kalian berpuasa pada hari ini?" Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari penenggelaman, sedangkan Fir'aun ditenggelamkan, dan hari ini juga bertepatan dengan hari berlabuhnya kapal Nabi Nuh di Gunung Judiy. Pada hari inilah Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa untuk mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Allah." Lalu Nabi berkata, "Aku lebih berhak untuk mengikuti Nabi Musa, dan aku lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini." Kemudian Nabi berkata kepada para sahabatnya, "Apabila kalian berniat puasa di pagi hari (yakni hari Asyura) maka teruskanlah dengan berpuasa pada hari itu, dan apabila kamu telah memakan makanan yang disediakan oleh istrimu maka janganlah kamu makan lagi di sisa hari itu (untuk menghormati hari Asyura). " (HR Ahmad dalam Musnad-nya)
Wallahu a'lam.
(kri/inf)

Komentar Terbanyak
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Soal Pidana Pelaku dan Kampanye LGBT
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina